Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Objek Matematika dan Pendidikan Matematika





BAB I
PEMBAHASAN

Objek Matematika dan Pendidikan Matematika
Berdasarkan etimologi, perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diiperoleh dengan bernalar. Disisi lain matematika dipandang sebagai ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan lainnya dan terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri. Di Indonesia setelah penjajahan belanda dan jepang, digunakan istilah “ilmu pasti” ini menimbulkan kesan bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran tentang perhitungan-perhitungan yang memberikan hasil yang “pasti” dan “tunggal”. Hal tersebut dapat menimbulkan suatu miskonsepsi yang harus di tiadakan.Justru kemungkinan ketidak unggulan hasil itu dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika untuk mengaktifkan siswa ini tidak terlepas dari kaitan antara matematika sebagai ilmu atau psikologi pendidikan.
Dalam hai ini, matematika mempunyai objek kajian yang bersifat Abtrak, walaupun tidak setiap abtrak adalah matematika.Sementara beberapa matematikawan menganggap bahwa objek kajian matematika itu adalah konkret dalam pikiran mereka, maka kita dapat menyebutkan bahwa objek kajian matematika secara lebih tepat sebagai objek mental atau pikiran.Ada empat yang menjadi objek kajian matematika yaitu Fakta, Konsep, Operasi dan Prinsip.

      A. Objek Kajian Matematika Berupa Fakta
Fakta adalah kovensi-kovensi dalam matematika yang biasanya di ungkapkan dengan simbol-simbol tertentu. Contoh simbol bilangan “3” secara umum sudah dipahami sebagai bilangan “tiga” sebaliknya kalau seorang mengucapkan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbulkan dengan “3” fakta yang komplek sepertinya п ≈ 3,14 yang dipahami sebagai pi yang mendekati tiga koma empat belas. 23 = 2 x 2 x 2  yang dipahami sebagai dua kali dua kali dua. Dalam geometri biasanya juga terdapat simbol-simbol tertentu, seperti “” yang berarti tegak lurus, “//” yang berarti sejajar. Dalam trigonometri kita kenal “sin” yang berarti perbandingan atau fungsi sinus. Dalam aljabar symbol “a,b” menunjukkan pasangan berurutan, symbol f yang dipahami sebagai fungsi dan masih banyak lagi lainnya.
Cara mempelajari fakta bisa dengan hafalan, drill (latihan terus menerus), demontrasi tertulis dan lain-lain.Dengan demikian dalam memperkenalkan simbol dan fakta matematika kepada siswa, guru seharusnya melalui beberapa tahap yang memungkinkan siswa dapat menyerap makna simbol-simbol tersebut.
Penggunaan fakata yang berupa symbol bila terlalu capat diberikan kepada siswa, dapat menyebabkan salah pengertian atau miskonsepsi terhadap symbol tersebut.Selain itu, penekanan pada aspek teknis berupa perhitungan belaka, juga dapat menimbulkan miskonsepsi tersebut.Contoh terjadinya miskonsepsi pada symbol adalah siswa seringkali dibimbing hanya menggunakan fakta-fakta matematika, tanpa memperhatikan pemahamannya. Salah satu contoh adalah pemahaman terhadap bilangan pi (п). Ada siswa yang menganggap pi bernilai sama dengan 3,14 atau  (22/7)  bukannya sekedar nilai pendekatan. Ada pula yang lebih parah, menganggap nilai pi sama dengan 1800, bukan memahami sebagai kesetaraan antara radian dan derajat.

     B. Objek Kajian Matematika Berupa Konsep
Konsep adalah ide abstrak yang dapat menggolongkan atau mengklasifikasi sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Contoh “segi tiga” adalah nama suatu konsep. Dengan konsep itu kita dapat membedakan mana yang merupakan contoh segi tiga dan mana yang bukan segi tiga. “bilangan prima” juga nama suatu konsep, yang dengan konsep ini kita dapat membedakan yang merupakan bilangan prima dan yang bukan bilangan prima. Konsep bilangan prima lebih komplek dibandingkan konsep segi tiga oleh karena itu didalam konsep bilangan prima memuat konsep-konsep lain sseperti “bilangan”, “satu” dan lain-lain. Dalam matematika terdapat konsep yang penting yaitu “fungsi”, “variabel”, dan “konstanta”. Konsep tersebut, seperti halnya dengan bilangan, terdapat semua cabang matematika.Banyak konsep lain dalam matematika yang lebih komplek misalnya matriks, vektor, determinan, gradien, dan lainnya.

Cara menyatakan konsep dalam matematika.
Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu meteri matematika yang baru, penglaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut. Menurut Coney, ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam mengajarkan konsep matematika, khususnya pada siswa yang berada pada tahap berpikir operasi formal, yaitu:
       a.  Pendefinisian (defining)
Defenisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep.Dengan adanya defenisi orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Konsep lingkaran misalnya “lingkaran dapat didefinisikan sebagai kumpulan titik-titik pada bidang datar yang memiliki jarak yang sama terhadap titik tertentu” dengan definisi tersebut akan jelas apa yang disebut dengan lingkaran. Dengan definisi tersebut pula orang mampu membuat sketsa lingkaran.

Membuat definisi adalah langkah baik karena definisi menggunakan bahasa yang singkat tetapi padat dan terstruktur. Dengan definisi juga para siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang ada dalam matematika.
      b.   Menyatakan syarat cukup
Kita dapat melihat gaya bahasa dari syarat cukup, yaitu “jika” selain itu juga kadang digunakan: asalkan, sebab, karena, dengan alasan. Dengan logika syarat cukup, siswa diharapkan mampu mencari contoh objek yang dinyatakan oleh konsep, sehingga langkah syarat cukup memudahkan penerapan dari konsep.
      c.  Memberi contoh
Hal  ini sangat penting, karena dengan contoh dapat memperjelas siswa tentang konsep yang dipelajarinya. Untuk itu contoh yang dibrikan adalah berupa  contoh-contoh yang sederhana, agar siswa lebih cepat memahami konsep yang diberikan. kemudian siswa dituntut untuk mencari contoh-contoh lainnya sendiri.
     d.   Memberi contoh disertai alasan.
Pemberian contoh yang disertai alasan releven dengan penyajian syarat cukup. Dengan kata lain, alasan yang dikemukakan tidak lain adalah syarat cukup dari defenisi. Selain itu, contoh yang dibuat siswa tidak dibuat secara spekulatif dan menghindari unsure tebakan.
     e.   Memberi kesamaan atau perbedaan objek yang dinyatakan konsep.
Dalam mengajarkan suatu konsep, sedang konsep tersebut mempunyai kesamaan/perbedaan dengan konsep lain, maka sebaiknya dituntut siswa mengemukakan persamaan/perbedaan yang ada, sehingga siswa benar-benar memahami konsep yang dipelajari itu dengan sebaik-baiknya.
     f.  Memberi suatu contoh penyangkal.
Yaitu contoh yang dinakan untuk menyangkal kesalahan generalisasi atau defenisi.Misal seorang siswa menyatakan bahwa trapesium adalah segi empat yang mempunyai sepasang sisi yang sejajar.
     g.   Menyatakan syarat perlu.
Untuk menunjukkan pernyataan merupakan suatu syarat perlu, biasanya digunakan tanda linguistik “harus” atau “hanya jika”.Misal sebuah segi empat jajaran genjang hanya jika (harus) kedua pasang sisi yang berlawanan sejajar.
     h.  Menyatakan syarat perlu dan cukup.
Untuk menyatakan objek suatu konsep mempunyai syarat perlu dan cukup biasanya digunakan kata “jika dan hanya jika”, dengan menyatakan syarat perlu dan cukup memungkinkan siswa menguasai konsep dengan baik, karena syarat cukup dapat mengidentifikasi contoh, sedangkan syarat perlu dapat mengidentifikasi bukan contoh.



C. Objek kajian Matematika berupa operasi
            Operasi adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan Matematika yang lain. Contoh misalnya “penjumlahan”, gabungan dan “irisan” unsur-unsur yang dioperasikan juga abstrak. Pada dasarnya operasi dalam matematika adalah suatu fungsi yang relasi khusus, karena operasi adalah aturan untuk  memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui.
            Semesta dari elemen-elemen yang diketahui maupun elemen yang diperoleh dapat sama dapat juga berbeda. Elemen tunggal yang diperoleh disebut hasil operasi, sedangkan satu atau lebih elemen yang diketahui disebut elemen yang dioperasikan. Dalam Matematika dikenal macam-macan operasi yaitu: “Operasi unair”, kemudian operasi biner, operasi terner dan sebagainya. Penjumlahan adalah operasi biner, karena elemen yang dioperasikan ada dua. Tetapi “tambah lima” adalah operasi unair, karena elemen yang ditambah Cuma satu. Dalam himpunan dikenal operasi “gabungan” adalah operasi biner, tetapi “komplemen” adalah operasi unair seringkali operasi disebut skill bila yang ditekankan adalah ketrampilannya.
               
D. Objek kajian matematika berupa prinsip
            Prinsip adalah objek kajian matematika yang lebih komplek, prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi.Secara sederhana dapat dikatakan bahwa prinsip adalah hubungan antara berbagai objek dasar Matematika. Prinsip dapat berupa aksioma, teorema sifat dan sebagainya.Contohnya sifat komutatif dan sifat asosotiatiif dalam aritmatika merupakan suatu prinsip, begitu pula dengan teorema phytagoras. Contoh sebuah aksioma antara lain melalui “satu titik A diluar sebuah garis g dapat dibuat tepat sebuah garis yang sejajar garis g”.
            Siswa dianggap telah memehami suatu prinsip apabila ia telah memahami bagaimana prinsip itu dibentuk dan dapat menggunakannya pada situasi yang cocok. Bila demikian dia telah memahami fakta konsep atau definisi, serta operasi yang termuat dalam prinsip tersebut.





























BAB II
PENUTUP


Kesimpulan
      A. Matematika mempunyai objek kajian yang bersifat abstrak,walaupun tidak setiap objek abstrak adalah matematika. Sementara ada yang menganggap bahwa objek kajian matematika itu adalah konkrit dalam pikiran mereka, maka kita dapat menyebutkan bahwa objek kajian matematika secara lebih  tepat sebagai objek mental atau pikiran. 
     B. Objek kajian matematika berupa fakta yaitu kovensi-kovensi dalam matematika yang biasanya diungkapkan dalam symbol-simbol tertentu.
   C. Objekkajian matematika berupa konsep yaitu ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan.
Cara menyatakan konsep dalam matematika yaitu:
       1. Pendefinisian

 2. Menyatakan syarat cukup
       3. Memberi contoh
       4. Member contoh beserta alasannya
       5. Member kesamaan atau perbedaan objek yang dinyatakan konsep
       6. Member contoh penyangkal
       7.Menyatakan syarat perlu dan syarat cukup
   D. Objek kajian berupa operasi yaitu pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan   Matematika yang lain.
    E. Objek kajian berupa prinsip yaitu objek kajian matematika yang lebih komplek, prinsip dapat terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi.









DAFTAR PUSTAKA

Hudojo H. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP
Soedjadi.2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia.Jakarta : Depdiknas
Sukardjono. 2003. Filsafat Dan Sejarah Matematika. Jakarta : UT

Referensi Internet :
http://makalah-filsafat-matematika.blogspot.co.id/
http://makalah-filsafat-matematika.blogspot.co.id/
http://blog.unnes.ac.id/faza/2011/05/30/mempelajari-konsep-matematika/
http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2008/12/download_08_gagne_median_1.pdf
http://id.shvoong.com/social-sciences/educatio

Selasa, 02 Mei 2017

Makalah Dasar-Dasar Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
System berasal dari bahasa Yunani yang berarti hubungan fungsional yang teratur antara unit-unit atau komponen-komponen (Musnamar, 1985: 38). Tatang M. Arifin (1986: 11) mengemukakan pengertian system sebagai suatu keseluruhan yang tersusun dari bagian-bagian yang satu dengan lainnya saling berhubungan secara teratur untuk mencapai suatu tujuan. Sisitem menurut Banathy (1968: 3) adalah suatu organism sintetik yang dirancang secara sengaja, terdiri atas komponen-komponen yang saling terkaitdan saling berinteraksi yang dimanfaatkan agar berfungsi secara terintegrasi untuk mencapai suatu tujaun yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Salah satu komponen yang dapat dijadikan sebagai suatu system adalah Pendidikan. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk membahas bagaimana peranan pendidikan ketika dijadikan sebagai sebuah system.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Pendidikan?
2.      Apa yang dimaksud dengan Sistem?
3.      Bagaimana Analisis Pendidikan Nasional sebagai Sebuah Sistem?
4.      Bagaimana Analisis Pendidikan Sekolah sebagai Sebuah Sistem?

C.     Tujuan
1.      Agar Pembaca Mengetahui Pengertian Pendidikan.
2.      Agar pembaca mengetahui apa itu system.
3.      Agar pembaca mengetahui Analisis Pendidikan Nasional sebagai Sebuah Sistem.
4.      Agar pembaca mengetahui Analisis Pendidikan Sekolah sebagai Sebuah Sistem.







BAB II

PEMBAHASAN

PENDIDIKAN SEBAGAI SEBUAH SISTEM

    A.    Pengertian Pendidikan
Secara bahasa pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar oleh seorang pelayan.  Pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi pendidikan didistilahkan sebagai educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada didalam. Dalam bahasa Inggris pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Muhajir, 2000: 20).
Pengertian pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hidup (Mudyahardjo, 2006: 3).[1]
Jika diamati secara seksama pengertian diatas mengandung beberapa kekhususan sebagai berikut:
1.      Lingkungan pendidikan
Pendidikan berlangsung dalam segala lingkunga baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya.
2.      Masa pendidikan
Pendidikan berlangsung seumur hidup disetiap saat selama ada pengaruh lingkungan.
3.      Bentuk kegiatan
Kegiatan pendidikan terentang dari bentuk-bentuk yang misterius atau tak disengaja sampai yang terprogram. Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup. Pendidikan berlangsung dalam berbagai bentuk, pola dan lembaga. Pendidikan dapat terjadi sembarang, kapan dan dimana pun dalam hidup. Pendidikan lebih berorientasi pada peserta didik.
4.      Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan. Tujuan pendidikan tidak terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup.[2]
     B.     Sistem
System berasal dari bahasa Yunani yang berarti hubungan fungsional yang teratur antara unit-unit atau komponen-komponen (Musnamar, 1985: 38). Tatang M. Arifin (1986: 11) mengemukakan pengertian system sebagai suatu keseluruhan yang tersusun dari bagian-bagian yang satu dengan lainnya saling berhubungan secara teratur untuk mencapai suatu tujuan. Sisitem menurut Banathy (1968: 3) adalah suatu organism sintetik yang dirancang secara sengaja, terdiri atas komponen-komponen yang saling terkaitdan saling berinteraksi yang dimanfaatkan agar berfungsi secara terintegrasi untuk mencapai suatu tujaun yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa unsure pokok suatu system meliputi tiga macam: tujuan, proses, dan isi. Isi system ini disusun sedemikian rupa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan proses merupakan bagaimana komponen-komponen tersebut dioperasikan dan difungsikan dalam upaya mencapai tujuan itu.
System mempunyai beberapa tingkatan; tingkatan yang lebih rendah dari system disebut subsistem, sedangkan tingkatan yang lebih tinggi disebut suprasistem. Subsistem adalah bagian dari suatu system. Setiap subsistem dirancang untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dimana akan berdampak penting bagi pencapaian tujuan system secara keseluruhan. Proses didalam subsistem ditentukan oleh tujuan khusus yang ingin dicapai dalam subsistem tersebut. Demikian pula, komponen dalam subsistem dipilih berdasarkan kemampuannya untuk melakukan proses dalam subsistem tersebut. Sebagai contoh, system pendidikan nasional terdiri atas beberapa subsistem, antara lain; subsistem pendidikan formal, subsistem pendidikan nonformal, subsistem pendidikan dasar, subsistem pendidikan menengah, dan sebgainya. Masing-masing subsistem tersebut memiliki tujuan khusus yang harus dicapai. Kualitas pencapaian tujuan subsistem tersebut akan menentukan pula kualitas pencapaian tujuan system pendidikan nasional secara keseluruhan.
Suprasystem adalah lingkungan lebih luas tempat system itu berada. Pendidikan nasional merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional. Dalam hal ini pembangunan nasional dapat dianggap sebagai suprasistem dari sisdiknas. Sebaliknya boleh juga dikatakan bahwa pendidikan nasional merupakan subsistem dari system pembangunan nasional itu sendiri. Jadi suatu system dapat menjadi sub dari system yang lebih besar atau menjadi suprasistem dari system yang lebih kecil.

    C.    Analisis Pemetaan Pendidikan Nasional sebagai Sebuah Sistem
1.      Analisis dan Pemetaan
a.       Batasan
1)      Ditinjau dari fungsinya, pendidikan Nasional adalah system pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu Negara kebangsaan atau Negara nasional dalam rangka mewujudkan hak menentukan nasib sendiri (right of self-determination) bangsa dalam bidang pendidikan.
2)      Ditinjau dari strukturnya, pendidikan nasional sebagai system merupakan keseluruhan kegiatan dari satuan-satuan pendidikan yang direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan dalam rangka menunjang tercapainya tujuan nasional.
b.      Peta Umum Pendidikan Nasional dalam Model Inpu-Output
1)      Masukan (Input)
Sumber-sumber dari masyarakat yang menjadi masukan system pendidikan nasional adalah :
a)      Informasi
Masukan dalam bentuk informasi mencakup:
(1)   Informasi Produk (informasi tentang peserta didik)
(2)   Informasi Operasional
Informasi tentang penduduk, tenaga kependidikan, pengetahuan/ilmu, seni, teknologi, cita-cita, dan barang-barang yang digunakan dalam pendidikan, serta penghasilan nasional dan penghasilan perkapita.

b)      Energy/tenaga
Masukan dalam bentuk tenaga mencakup; penduduk yang sedang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan nasional dan tenaga kependidikan yang bekerja dalam system Pendidikan Nasional.
c)      Bahan-bahan
Sumber-sumber bukan manusia yang masuk dalam system pendidikan nasional mencakup:
(1)   Barang-barang produksi yang digunakan dalam melaksanakan transformasi pendidikan (misalnya: buku pelajaran, alat-alat pendidikan, peraga dan praktikum, bangunan dan sebagainya).
(2)   Penghasilan nasional (APBN dan APBD Pendidikan) dan penghasilan perkapita yang disediakan untuk membiayai pendidikan (SPP, Uang BP-3, dan sebagainya).
2)      Transformasi
a)      Komponen
Komponen-komponen yang digunakan untuk melaksanakan transformasi adalah:
(1)   Tujuan pendidikan
(2)   Organisasi pendidikan
(3)   Masa pendidikan
(4)   Program isi pendidikan
(5)   Prasarana pendidikan
(6)   Sarana dan teknologi pendidikan
(7)   Biaya pendidikan
(8)   Tenaga pendidikan
(9)   Peserta didik
b)      Bentuk transformasi
(1)   Transformasi administrative/manajerial pendidikan, yaitu proses kegiatan pengelolaan pendidikan nasional oleh Negara dan pemerintah (pusat dan daerah).
(2)   Transformasi operasional/teknis pendidikan, yaitu proses kegiatan pengelolaan pendidikan oleh kepala sekolah/lembaga pendidikan luar sekolah.
3)      Hasil
a)      Orang-orang yang terdidik dalam kemampuan-kemampuan: kognitif, afektif, dan psikomotor
b)      Orang-orang tersebut dapat menjadi:
(1)   Seorang individu yang terus belajar dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya.
(2)   Seorang anggota keluarga yang bahagia, seorang pekerja atau professional yang berhasil, seorang warga Negara yang baik, seorang anggota orpol/ormas yang baik, dan seorang anggota masyarakat sekitar yang baik.
(3)   Seorang hamba Tuhan yang baik.
2.      Analisis dan Pemetaan Suprasistem Pendidikan Nasional
a.       Batasan
Suprasistem dari pendidikan nasional adalah keseluruhan kehidupan masyarakat dalam bernegara dan berbangsa, yang mencakup masyarakat nasional domestic atau masyarakat dalam negeri sebagai lingkungan proksimal dan masyarakat internasional sebagai lingkungan distal.
b.      System-sistem dalam suprasistem
System-sistem pendidikan yang berada dalam suprasistem dari system pendidikan nasional yang mempunyai pengaruh terhadap system pendidikan nasional yaitu:
1)      System social budaya
2)      System biososial (penduduk)
3)      System ekonomi makro
4)      System politik
3.      Analisis dan Pemetaan Masukan Sistem Pendidikan Nasional
a.       Batasan
Sumber-sumber dari lingkungan masyarakat nasional dan masyarakat internasional yang dipergunakan untuk menyelenggarakan transformasi dalam system pendidikan nasional.
b.      Bentuk Masukan
1)      Informasi
a)      Informasi produk
(1)   Informasi kuantitas peserta didik
(2)   Informasi kualitas peserta didik
b)      Informasi operasional
(1)   Keterangan tentang kuantitas dan kualitas masukan instrumental
(2)   Informasi lingkungan
2)      Energy/tenaga
a)      Energy manusia
(1)   Energy peserta didik
(2)   Energy tenaga kependidikan
b)      Energy non-manusia
Energy (misalnya: listrik, gas, bensin, dan sebagainya) yang dipergunakan sebagai peralatan pendidikan dan administrative dalam melancarkan operasi-operasi yang terjadi dalam transformasi operasional dan administrative.
3)      Bahan-bahan
a)      Bahan-bahan olahan yang berupa kurikulum pendidikan
b)      Bahan-bahan operasional
4.      Analisis dan Pemetaan Transformasi dalam Sistem Pendidikan Nasional
a.       Batasan
Transformasi pendidikan nasional adalah keseluruhan proses pengubahan masukan pendidikan nasional menjadi hasil pendidikan nasional.
b.      Komponen-komponen Pendidikan Nasional
1)      Tujuan-tujuan pendidikan
2)      Organisasi pendidikan
3)      Masa pendidikan
4)      Prasarana pendidikan
5)      Sarana pendidikan
6)      Isi pendidikan
7)      Tenaga kependidikan
8)      Peserta didik
c.       Proses-proses dalam Transformasi
1)      Transformasi Administratif
2)      Transformasi edukatif
d.      Para pelanggan
1)      Para pelanggan intern dalam system pendidikan nasional
a)      Para pelanggan dalam urusan edukatif
(1)   Pelajar (murid, siswa, mahasiswa, warga belajar)
(2)   Pendidik (guru, dose, pembimbing, instruktur)
(3)   Satuan-satuan pendidikan dan unit-unit pendidikannya
2)      Para pelanggan ekstern
a)      Para pelanggan ekstern yang berhubungan langsung
(1)   Tenaga kerja terdidik berbagai sector
(2)   Orang tua pelajar
b)      Para pelanggan ekstern yang tidak berhubungan langsung
(1)   Para alumni
(2)   Lembaga-lembaga akreditas
(3)   Para donator
(4)   Dewan Perwakilan Rakyat
(5)   Masyarakat luas
5.      Analisis Pemetaan Hasil Sistem Pnedidikan Nasional
a.       Batasan
Jumlah orang-orang yang terdidik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang optimal dapat dicapai oleh setiap orang.
b.      Fungsi dan peranan
Hasil pendidikan yang disampaikan kepada masyarakat yang menjadi suprasistemnya diharapkan dapat diserap sebagai:
1)      Pribadi yang mampu terus belajar dalam rangka terus meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor secara maksimal.
2)      Anggota masyarakat yang baik dalam berperan sebagai:
a)      Anggota keluarga
b)      Tenaga kerja
c)      Warga Negara yang baik
d)     Anggota organisasi kemasyarakatan atau organisasi politik yang baik
e)      Anggota kelompok persaudaraan yang baik
f)       Anggota masyarakat sekitar yang baik
3)      Hamba Tuhan yan baik

    D.    Analisis dan Pemetaan Sekolah sebagai Sebuah Sistem
1.      Analisis dan pemetaan Suprasistem Sekolah
a.       Batasan
Suprasistem sekolah adalah lingkungan secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap penyelenggaraan keseluruhan kegiatan sekolah sebagai organisasi formal pendidikan.
b.      Bentuk
1)      Lingkungan distal
2)      Lingkungan proksimal
2.      Analisis dan Pemetaan Masukan Sekolah
a.       Informasi
1)      Informasi produk yaitu keterangan dan jumlah karakteristik calon muridlsiswa/mahasiswa.
2)      Informasi operasional
a)      Keterangan tentang jumlah dan mutu masukan instrumental (misalnya: buku-buku pelajaran dan bahan-bahan bacaan, alat-alat bantu belajar mengajar, perlengkapan-perlengkapan sekolah, kurikulum dan teknologi pendidikan, dan sebagaunya).
b)      Keterangan tentang karakteristik lingkungan hidup masyarakat sekitar (biososial, social budaya, social politik, social ekonomi).

b.      Tenaga
1)      Tenaga manusia (tenaga peserta didik dan tenaga kependidikan)
2)      Tenaga bukan manusia (listrik, panas, bensin, gas, dan sebagainya)

3.      Analisis dan Pemetaan Transformasi di Sekolah
a.       Komponen-komponen sekolah
1)      Tujuan-tujuan pendidikan
2)      Organisasi sekolah
3)      Masa pendidikan
a)      SD selama 6 tahun
b)      SLTP selama 3 tahun
c)      SMU/SMK selama 3 tahun
d)     Perguruan tinggi
4)      Prasarana sekolah
a)      Tanah sekolah
b)      Bangunan sekolah
c)      Alat transfortasi
d)     Jalan yang menghubungkan sekolah dengan masyarakat
5)      Sarana sekolah
a)      Alat-alat bantu belajar mengajar
b)      Alat-alat administrative
6)      Kurikulum
a)      Jenis kurikulum
b)      Bentuk
(1)   Kurikulum mata pelajaran
(2)   Kurikulum fusi (berkolerasi
(3)   Kurikulum studi yang luas
(4)   Kurikulum inti
(5)   Kurikulum pengalaman

7)      Biaya pendidikan
a)      Sumber biaya
b)      Jenis biaya pendidikan
b.      Proses-proses dalam transformasi
1)      Transformasi administrative (subsistem administrative)
2)      Transformasi edukatif (subsistem edukatif)
a)      Pengajaran, melalui kegiatan belajar mengajar
b)      Bimbingan penyuluhan
(1)   Latihan mengerjakan tugas
(2)   Latihan olahraga
(3)   Latihan seni
(4)   Latihan kerajinan tangan
(5)   Latihan studi llapangan
(6)   Praktikum IPA
c)      Para pelanggan
1)      Para pelanggan intern sekolah
a)      Pelanggan edukatif
(1)   Pelajar
(2)   Guru kelas/guru mata pelajaran/guru pembimbing
b)      Pelanggan administrative
(1)   Pelajar
(2)   Guru kelas/guru mata pelajaran
(3)   Tenaga administrative
2)      Para pelanggan ekstern sekolah
a)      Para pelanggan langsung
(1)   Orang tua murid/siswa
(2)   Guru-guru disekolah lain
(3)   Selolah-sekolah lain
(4)   BP3
b)      Para pelanggan tak langsung
(1)   Khalayak ramai/masyarakat luas
(2)   Lembaga-lembaga akreditasi
(3)   Para alumni
(4)   Para donator
(5)   DPR

c.       Analisis Pemetaan Hasil Sekolah
1)      Batasan
Hasil sekolah adalah tamatan atau pelajar-pelajar yang telah berhasil menyelesaikan program-program sekolah, dengan tingkat kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor tertentu.
2)      Fungsi dan Peranan
a)      Ditinjau dari sudut kemampuan, dapat melanjutkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah.
b)      Dapat memasuki kehidupan sebagai:
(1)   Pribadi
(2)   Anggota masyarakat
(3)   Hamba Allah[3]



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hidup.
System adalah suatu keseluruhan yang tersusun dari bagian-bagian yang satu dengan lainnya saling berhubungan secara teratur untuk mencapai suatu tujuan.
Jadi, Pendidikan sebagai sebuah Sistem merupakan semua komponen dalam pendidikan yang dijadikan sebagai suatu system yang saling bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.




















DAFTAR PUSTAKA

Kadir, Abdul dkk. 2012. Dasar-dasar Pendidikan. Jakarta: Kencana
Mudyahardjo, Redja. 2010. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Mudyahardjo, Redja. 2006. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada




[1] Redja Mudyahardjo, Dasar-dasar pendidikan, Kencana (Jakarta: 2006) hal.20
[2] Abdul Kadir, dkk, dasar-dasar pendidikan, Kencana (Jakarta: 2012), hal.59-60
[3] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, PT RajaGrafindo Persada,(Jakarta:2010),hal.50-89